Palopo

Dugaan Percobaan Pemerkosaan Mahasiswi di Palopo Berujung Laporan Polisi

5
×

Dugaan Percobaan Pemerkosaan Mahasiswi di Palopo Berujung Laporan Polisi

Sebarkan artikel ini

Palopo, Wijatoluwu.com – Seorang oknum dosen di salah satu perguruan tinggi di Kota Palopo berinisial ER, dilaporkan ke polisi atas dugaan percobaan pemerkosaan terhadap seorang mahasiswi berinisial SK. Peristiwa itu diungkap langsung oleh ibu korban, Nurmiati, yang menceritakan detik-detik kejadian yang dialami anaknya.

“Sebelumnya anak saya pingsan, lalu ada seorang laki-laki inisial R bersama terduga Prof E membawa korban ke sebuah ruko,” kata Nurmiati kepada wartawan, Minggu (1/2/2026).

Menurut Nurmiati, saat korban dibaringkan di dalam ruko, terduga pelaku yang diketahui merupakan dosen tersebut diduga mulai melakukan tindakan asusila terhadap korban yang masih dalam kondisi tidak sadarkan diri.

“Saat korban dibaringkan di dalam, terduga memasukkan tangannya ke dalam baju korban dan mengelus bagian tubuh korban,” katanya.

Nurmiati menambahkan, tindakan itu terus berlanjut hingga mengarah pada dugaan percobaan pemerkosaan. Namun, korban akhirnya tersadar dan langsung melawan.

“Terduga sempat menepuk pipi korban dan membuka resleting celana korban, tapi anak saya terbangun lalu langsung mencegat perbuatannya,” jelasnya.

Usai kejadian tersebut, keluarga korban tidak terima dan langsung menempuh jalur hukum dengan melaporkan peristiwa itu ke pihak kepolisian.

“Kami keberatan atas perbuatan itu dan tadi malam langsung melaporkannya ke Polres Palopo didampingi beberapa keluarga,” imbuhnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman dan pemeriksaan terhadap terduga pelaku serta saksi-saksi terkait kasus dugaan percobaan pemerkosaan tersebut.

Sementara itu, terduga pelaku berinisial ER membantah dugaan perbuatan asusila yang dilaporkan ke Mapolres Palopo. Ia menyebut kronologi yang beredar dan menyebut informasi yang berkembang tidak menggambarkan situasi sebenarnya di lokasi kejadian.

“Empat orang ka sama itu yang pingsan. Bukan berduaan, ada juga perempuan di sana,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (2/2/2026).

Ia menjelaskan, situasi di dalam ruko saat itu terdiri dari empat orang. Dia menekankan bahwa ada lebih dari satu perempuan di lokasi, sehingga menurutnya tidak benar jika disebut hanya terduga pelaku dan korban berada dalam ruko tersebut.

“Jadi saya berempat di situ dalam ruko dan ada satu perempuan. Jadi dua orang ceritanya ini perempuan. Kemudian itu kabonya di luar terbuka jadi saya letakkan dan saya keluar tutupkan itu kabonya karena banyak uangnya nabilang itu temannya,” katanya.

ER juga memaparkan bahwa sempat ada aktivitas keluar-masuk ruko karena dirinya bersama satu pria lain menutup lemari (kabo) yang disebut dalam kondisi terbuka. Setelah itu, ia kembali masuk ke dalam ruko untuk mengambil barang miliknya.

“Keluarlah kami dua orang yang laki-laki itu untuk tutup itu kabo. Setelah kami tutup itu kabo, saya masuk lagi. Saya lihat masuk lagi dan masuk mobil. Kemudian saya ke mobil ambil paket ku dan saya bawa masuk,” ungkapnya.

Terkait tuduhan adanya sentuhan yang dinilai tidak pantas, ia menyebut tindakannya saat itu murni karena mengira korban mengalami kondisi darurat medis. Ia mengaku melihat adanya luka pada tangan korban dan menduga terjadi pendarahan sehingga mencoba memberikan pertolongan.

“Saya liat itu tangannya teriris-iris, dan itu tidak muncul di media bahwa tangannya itu teriris-iris. Saya pikir itu pendarahan. Sebagai pertolongan menurut saya pertolongan medis saya kira benar, ternyata inilah yang salah. Saya singkap jilbabnya, waktu saya angkat, bajunya terangkat, itulah saya perbaiki dan saya sama dengan satu orang lagi perempuan keponakan saya yang tinggal di situ ruko,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan