Palopo

Ketika Pemimpin Diam, Sampah yang Berbicara

8
×

Ketika Pemimpin Diam, Sampah yang Berbicara

Sebarkan artikel ini

Penulis: Ugha Anugrah
Aktivis & Pegiat Konseling

PALOPO, Wijatoluwu.com – Salah satu yang paling kasat mata hari ini adalah sampah. Di sudut-sudut jalan, di pinggir drainase, di ruang-ruang publik yang seharusnya menjadi wajah kota, sampah hadir sebagai saksi bisu dari absennya kepemimpinan yang bersuara.

Ketika pemimpinnya tampak enggan menjadi narator, agenda kota menjadi rentan dikemudikan oleh kelambanan birokrasi, kebiasaan lama warga yang tak pernah ditantang berubah, dan ketidakjelasan siapa yang bertanggung jawab atas apa yang sedang terjadi.

Sampah bukan hanya soal kebersihan, ia adalah metafora yang mencerminkan seberapa serius seorang pemimpin hadir untuk mendefinisikan standar kotanya sendiri.

Dalam psikologi sosial, ini disebut leadership vacuum, yakni sebuah kekosongan kepemimpinan yang bukan berarti tidak ada Wali Kota-nya secara formal, melainkan tidak ada kehadiran psikologis pemimpin dalam kesadaran kolektif warganya. Dan dalam kekosongan itu, sampah pun bebas bertumpuk secara harfiah maupun simbolik.

Menjadi pemimpin publik bukan hanya tentang menandatangani kebijakan di balik meja ber-AC. Kadang ia harus turun ke tempat yang paling tidak nyaman, termasuk berbicara lantang soal masalah yang baunya sudah tercium oleh semua orang kecuali, tampaknya, oleh pemimpinnya sendiri.

Dalam bahasa psikologi, keberanian semacam ini disebut psychological courage: kemampuan untuk bertindak dan bersuara sesuai nilai, meski ada risiko dikritik, dianggap gagal, atau sekadar tidak populer.

Naili Trisal masih punya waktu untuk mengubah pola ini. Palopo bukan hanya butuh Wali Kota yang bekerja dalam sunyi, Palopo butuh Wali Kota yang berani berdiri di depan warganya dan berkata: ini kondisi kita, ini yang salah, ini yang akan kita ubah, dan saya yang bertanggung jawab.

Termasuk soal sampah yang selama ini seolah tak pernah cukup genting untuk dibicarakan dengan serius di ruang publik.

Karena pemimpin yang sejati bukan hanya diukur dari program yang tertulis di dokumen perencanaan melainkan dari keberaniannya untuk hadir, bicara, dan mengakui bahwa ada yang harus dibenahi.

Meskipun yang harus dibenahi itu berbau, menumpuk, dan sudah lama dibiarkan.

Tinggalkan Balasan