Oleh: Fauzan (Ketua HMPS PAI UIN Palopo Periode 2026)
Opini, Wijatoluwu.com – Fenomena munculnya akun-akun anonim yang menyoroti kehidupan kampus tidak bisa hanya dibaca sebagai gangguan atau penyimpangan. Dalam banyak kasus, itu justru menjadi tanda bahwa ada kebutuhan akan ruang ekspresi yang belum sepenuhnya terwadahi. Ini bukan soal mencari siapa yang salah, tetapi momentum untuk membaca gejala dan memperbaiki ekosistem.
Perguruan tinggi selama ini sangat kuat dalam membangun fondasi teori. Kurikulum disusun rapi, materi disampaikan sistematis, dan capaian pembelajaran dirumuskan dengan jelas. Namun dalam praktiknya, tidak semua mahasiswa mendapatkan dorongan yang cukup untuk mengasah pengalaman organisasi dan kepemimpinan sejak dini. Padahal ketika lulus, dunia kerja dan masyarakat lebih banyak menguji kemampuan praktik daripada hafalan konsep.
Organisasi kemahasiswaan seperti HMPS sejatinya adalah laboratorium sosial. Di sanalah mahasiswa belajar mengelola program, memimpin tim, menyelesaikan konflik, membangun komunikasi, dan mempertanggungjawabkan keputusan. Keterampilan seperti ini jarang lahir dari ruang kuliah semata. Ia tumbuh dari proses, dari dinamika, dan dari pengalaman langsung.
Sayangnya, tidak sedikit mahasiswa yang merasa aktivitas organisasi dipandang sebagai kegiatan sampingan, bukan bagian dari proses pembentukan kompetensi. Bahkan ada yang merasa ruang geraknya dibatasi oleh kekhawatiran administratif atau stigma bahwa aktivisme mengganggu akademik. Cara pandang seperti ini perlu ditinjau ulang. Organisasi bukan lawan dari prestasi akademik, justru bisa menjadi penguatnya.
Kegiatan lapangan seperti pengabdian masyarakat dan KKN menunjukkan satu hal yang konsisten: mahasiswa yang memiliki pengalaman organisasi biasanya lebih siap beradaptasi, lebih tenang menghadapi masalah, dan lebih cepat membangun koordinasi di lapangan. Ini bukti bahwa praktik sosial dan kemampuan manajerial bukan pelengkap, melainkan kebutuhan.
Karena itu, kolaborasi antara Program Studi, HMPS, dan Ikatan Alumni perlu dibangun secara sadar. Prodi memperkuat kerangka teori. HMPS menjadi ruang praktik dan pembentukan karakter kepemimpinan. IKA menjadi jembatan implementasi di dunia nyata. Jika tiga unsur ini terhubung, maka proses pendidikan menjadi utuh, tidak terputus antara kampus dan realitas.
Kampus yang sehat bukan kampus yang sunyi dari kritik, tetapi kampus yang mampu mengelola kritik menjadi perbaikan. Ruang dialog yang terbuka akan selalu lebih produktif daripada pembatasan yang berlebihan. Dari dialog lahir rasa memiliki. Dari rasa memiliki lahir tanggung jawab.
Pada akhirnya, tujuan pendidikan tinggi bukan hanya meluluskan sarjana, tetapi menyiapkan manusia yang matang berpikir, terampil bertindak, dan siap memberi dampak. Dan itu hanya mungkin jika teori dan pengalaman berjalan beriringan.







